Hj Mutholiah, Kartini Desa

Publika24 Dilihat

MEDIASI – Hj. Mutholiah: Perempuan yang Memilih Mengabdi, Ketika Pendidikan Belum Menjadi Pilihan Banyak Orang.

Di sebuah desa yang berada di kaki Gunung Slamet, jauh dari hiruk-pikuk kota, pernah tumbuh seorang perempuan yang memilih jalan hidup yang sederhana, tetapi memiliki dampak yang luar biasa.

Namanya Hj. Mutholiah. Masyarakat lebih akrab menyapanya Bu Mut. Bagi sebagian orang, menjadi guru mungkin hanya sebuah pekerjaan. Namun bagi Bu Mut, mengajar adalah bentuk pengabdian. Ia tidak sekadar berdiri di depan kelas dan menyampaikan pelajaran. Ia ingin memastikan bahwa anak-anak desa tempat ia dilahirkan memiliki kesempatan untuk bermimpi lebih tinggi daripada keadaan yang mereka lihat setiap hari.

Karena itulah, kisah hidupnya layak dikenang sebagai kisah seorang “Kartini Desa.”


Tumbuh di Kaki Gunung Slamet

Hj. Mutholiah lahir di Tegal, Agustus 1966, dari pasangan KH. Abdul Bari dan Ibu Sairah. Ia merupakan anak kedua dari sembilan bersaudara.

Ia tumbuh di Kebagusan, Desa Danasari, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, sebuah wilayah yang pada masa itu masih jauh dari kemudahan kehidupan perkotaan.
Kehidupan masyarakat berlangsung sederhana. Kultur tradisional dan religius begitu kuat. Gotong royong, adat-istiadat, dan kehidupan keagamaan menjadi bagian dari keseharian masyarakat.

Setiap sore menjelang malam, anak-anak desa berbondong-bondong mengaji Al-Qur’an. Pagi hari mereka bersekolah di SD atau MTs, sementara siang hingga sore sebagian melanjutkan belajar di madrasah.

Para orang tua menjalani kehidupan dengan penuh perjuangan. Sebagian mengurus kebun dan bertani, sementara sebagian lainnya memilih merantau ke Jakarta demi mencari penghidupan yang lebih baik.

Di tengah kondisi seperti itulah Bu Mut tumbuh.
Ia melihat sendiri bahwa pendidikan bukan sesuatu yang mudah dijangkau semua anak desa.


Ketika Sekolah Bukan Pilihan Utama

Pada masa itu, kondisi ekonomi membuat banyak keluarga harus berpikir realistis.
Bagi sebagian masyarakat, setelah menyelesaikan sekolah dasar, kehidupan seolah sudah memiliki jalannya sendiri.

Anak perempuan banyak yang kemudian bekerja sebagai pembantu atau membantu keluarga. Anak laki-laki pergi merantau, bekerja, atau berdagang.

Bukan karena mereka tidak memiliki cita-cita.
Tetapi karena keadaan sering kali membuat cita-cita harus dikalahkan oleh kebutuhan hidup.

Bu Mut termasuk anak desa yang mendapatkan kesempatan lebih baik. Berasal dari keluarga yang relatif berkecukupan, ia dapat menikmati pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan kebanyakan anak seusianya di kampung.
Namun ada satu hal yang kemudian membedakan dirinya.

Ia tidak menggunakan pendidikan itu hanya untuk mengubah hidupnya sendiri.
Ia justru memilih kembali ke desa.


Memilih Pulang, Memilih Mengabdi

Setelah menyelesaikan pendidikannya, Bu Mut sebenarnya memiliki kesempatan untuk mencari kehidupan di tempat lain.
Tetapi ia memilih tetap tinggal di kampung halamannya.

Pilihan itu mungkin terlihat sederhana hari ini.
Namun pada zamannya, memilih kembali ke desa untuk mengajar bukanlah pilihan yang mudah.

Bu Mut menjalani hari-harinya dengan aktivitas yang nyaris tidak pernah berhenti.
Pagi hari mengajar di Madrasah Tsanawiyah.
Siang hari mengajar di madrasah.
Malam hari mengajar mengaji.
Begitu terus.
Hari berganti hari.
Minggu berganti minggu.
Tahun berganti tahun.
Tidak banyak sorotan. Tidak ada panggung besar. Tidak ada penghargaan yang setiap hari menunggunya.

Yang ada hanyalah anak-anak desa yang datang membawa buku, pertanyaan, dan harapan.
Dan Bu Mut selalu ada di sana.


Mengajar Bukan Sekadar Menyampaikan Pelajaran

Bagi Bu Mut, anak-anak desa tidak boleh hanya menjadi penonton perubahan zaman.

Ia ingin mereka tumbuh menjadi manusia yang berilmu, memiliki masa depan, dan mampu mengangkat kehidupan keluarganya.

Mungkin saat itu ia belum membayangkan bagaimana kehidupan murid-muridnya kelak.
Ia hanya tahu satu hal:
Kalau anak-anak desa mendapatkan pendidikan, mereka akan memiliki lebih banyak pilihan dalam menentukan masa depan.

Karena itu ia terus mengajar.
Ia mendidik bukan karena ingin dikenang.
Ia mendidik karena percaya bahwa ilmu adalah salah satu jalan untuk mengubah kehidupan.


Perempuan Aktif di Tengah Masyarakat
Pengabdian Bu Mut tidak berhenti di ruang kelas.

Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan organisasi kemasyarakatan, termasuk IPPNU dan Fatayat.

Di tengah masyarakat desa yang masih sangat kental dengan tradisi, kehadiran perempuan muda yang aktif dalam pendidikan dan organisasi merupakan sesuatu yang istimewa.

Bu Mut hadir di tengah masyarakat bukan dengan jarak.
Ia berbaur.
Ia ikut bergerak.
Ia mendampingi.
Ia mengajar.
Dan ia menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang dicintainya.


Kesederhanaan yang Melahirkan Keteladanan

Bu Mut lahir dari keluarga yang relatif berkecukupan di tengah masyarakat yang sebagian besar hidup dengan keterbatasan.
Namun keadaan tersebut tidak membuatnya hidup dengan jarak dari masyarakat.
Justru sebaliknya.

Apa yang ia miliki digunakan untuk mengabdi kepada kampung halaman.
Ia memilih hidup sederhana dan memberikan sebagian besar waktunya untuk sesuatu yang mungkin hasilnya baru bisa dilihat puluhan tahun kemudian.

Dan benar saja.
Waktu akhirnya membuktikan.
Anak-anak yang dahulu duduk di hadapannya sebagai murid kecil kini telah tumbuh dewasa.
Sebagian telah menikah.
Sebagian telah memiliki keluarga.
Dan yang paling membahagiakan bagi seorang guru—
banyak di antara mereka yang berhasil menjadi sarjana.


Bu Mut dan Jejak yang Tidak Hilang
Ada kebahagiaan tertentu yang mungkin hanya bisa dirasakan seorang guru.
Ketika bertemu mantan murid bertahun-tahun kemudian, ia masih mengenali mereka satu per satu.

Ia tahu siapa mereka.
Ia ingat masa kecil mereka.
Ia ingat bagaimana mereka belajar.
Dan kini ia melihat mereka telah tumbuh menjadi manusia dewasa dengan kehidupan masing-masing.

Mungkin bagi sebagian orang, keberhasilan itu adalah milik anak-anak tersebut.
Tetapi di balik keberhasilan seorang anak, selalu ada orang-orang yang pernah menyalakan lampu ketika jalan mereka masih gelap.

Bu Mut adalah salah satunya.
Ia mungkin tidak membangun gedung sekolah yang megah.
Tidak memiliki nama besar di kota.
Tidak selalu tampil dalam berita.
Tetapi ia telah melakukan sesuatu yang jauh lebih penting:
Menanamkan harapan kepada anak-anak desa.


Kartini Desa

Hari ini, ketika kita berbicara tentang pendidikan, teknologi, sekolah modern, universitas, dan berbagai kemudahan untuk belajar, kita mungkin lupa bahwa semua itu dahulu tidak selalu tersedia bagi anak-anak di pelosok desa.

Ada orang-orang yang bekerja dalam diam untuk membuka jalan.
Ada guru yang bertahun-tahun mengajar dengan segala keterbatasan.
Ada perempuan yang memilih tetap tinggal di kampung ketika banyak orang memilih pergi.

Dan salah satunya adalah Hj. Mutholiah.
Ia adalah perempuan desa yang mendapatkan kesempatan pendidikan, lalu menggunakan kesempatan itu untuk membuka kesempatan bagi orang lain.

Ia tidak hanya mengajar anak-anak untuk membaca buku.
Ia membantu mereka membaca masa depan.
Karena itu, julukan “Kartini Desa” terasa begitu tepat untuknya.

Bukan karena ia ingin menjadi pahlawan.
Tetapi karena sepanjang hidupnya ia telah menunjukkan satu hal sederhana:
Perubahan besar tidak selalu dimulai dari kota besar. Kadang, ia dimulai dari seorang guru di sebuah desa kecil yang dengan sabar mengajarkan anak-anak untuk berani bermimpi.


Profil Singkat

Nama: Hj. Mutholiah
Nama panggilan: Bu Mut
Tempat, lahir: Tegal, Agustus 1966
Orang tua: KH. Abdul Bari & Ibu Sairah
Anak ke: 2 dari 9 bersaudara
Suami: Abdul Ghofur
Anak: 2 orang, putra dan putri
Asal: Kebagusan, Desa Danasari, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal

Dedikasi: Pendidikan, pengajaran agama, kegiatan sosial dan kemasyarakatan

Julukan: Kartini Desa
“Dari sebuah desa di kaki Gunung Slamet, seorang perempuan menyalakan cahaya. Cahaya itu kemudian tumbuh dalam diri anak-anak didiknya, menyebar dari satu generasi ke generasi berikutnya.”

Itulah kisah Bu Mut.
Seorang ibu, seorang guru, seorang perempuan desa—dan seorang Kartini yang memilih mengabdi.


Penulis : Mas Muh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *