Seandainya Tuhan melupakan sejenak
bahwa aku hanyalah wayang kain
dan memberiku sedikit kehidupan lagi,mungkin aku tidak akan mengatakan semua yang kupikirkan,
tapi aku pasti akan memikirkan semua yang kukatakan.
Aku akan menghargai hal-hal kecil…
aku akan tidur sedikit, bermimpi lebih banyak,
karena setiap menit mata kita tertutup,
kita kehilangan 60 detik cahaya.
Aku akan berjalan ketika orang lain berhenti,
aku akan bangun ketika orang lain tidur.
Aku akan mendengarkan ketika orang lain bicara,
dan betapa nikmatnya mendengarkan hati yang baik!
Seandainya Tuhan memberiku sedikit kehidupan lagi,
aku akan berpakaian sederhana,
berjemur bukan hanya kulit tapi juga jiwaku,
dan menuangkan semua isi hatiku.
Tuhan, kalau aku punya hati,
aku akan menulis kebencianku di atas es,
dan menunggu matahari terbit.
Aku akan melukis dengan mimpi Van Gogh di atas bintang,
dan puisi Benedetti akan jadi lagu bulan.
Aku akan menyirami mawar dengan air mataku,
untuk merasakan sakitnya duri,
dan ciuman merah dari kelopaknya.
Tuhan, kalau aku punya sedikit kehidupan lagi…
aku tidak akan membiarkan satu hari pun berlalu
tanpa mengatakan kepada orang yang kucintai,
bahwa aku mencintainya.
Aku akan meyakinkan setiap wanita dan pria:
bahwa mereka dicintai,_
dan bahwa mereka akan selalu dicintai.
Aku akan hidup untuk setiap hari,
dengan keberanian untuk menjalani hidup sebaik mungkin.
Dan jika aku salah… aku akan memperbaikinya.
Jangan sia-siakan hari ini.
Tertawalah, sampai perutmu sakit.
Dan jangan pernah menyesali apa pun.
yang membuatmu tersenyum.
Buatlah teman dari perbedaan.
Peluklah perubahan.
Karena hidup itu bukan hari-hari yang berlalu,
tapi hari-hari yang kita kenang.
Puisi indah karya Gabriel “Gabo” Garcia Marquez (Sastrawan besar Kolombia).









