Tekan Kesenjangan Mutu Antar Sekolah dan Peningkatan Kapasitas Guru, Kemendikdasmen Gelar Pelatihan Mandiri Koding Hingga AI

News25 Dilihat

MEDIASI – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyelenggarakan pelatihan mandiri guna memperkuat kompetensi pembelajaran mendalam, koding, dan kecerdasan artifisial (AI) bagi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK).

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan tantangan pendidikan Indonesia tidak hanya berkaitan dengan akses, namun juga kesenjangan mutu antar-sekolah sehingga peningkatan kapasitas guru menjadi salah satu fokus utama pihaknya.

“Tantangan pendidikan kita tidaklah sederhana. Kita masih mengalami masalah kesenjangan pendidikan, terutama antara satu kawasan dengan kawasan lainnya dan antara satu sekolah dengan sekolah lainnya. Karena itu program ini sangat penting, terutama dalam mewujudkan pendidikan yang bermutu untuk semua,” kata Mendikdasmen Abdul Mu’ti dalam kegiatan bertajuk “Peluncuran Pelatihan Mandiri Pembelajaran Mendalam, Koding dan Kecerdasan Artifisial” di Jakarta pada Kamis.

Guna mengatasi tantangan tersebut, lanjutnya, Presiden terus memberikan perhatian besar terhadap transformasi pendidikan, baik melalui revitalisasi satuan pendidikan maupun percepatan digitalisasi pembelajaran melalui distribusi Interactive Flat Panel (IFP) beserta ekosistemnya ke seluruh satuan pendidikan.

Namun demikian Mendikdasmen menegaskan pemanfaatan teknologi digital secara masif tidak akan menggantikan peran guru karena guru tetap menjadi aktor utama yang menentukan kualitas pembelajaran.

“Guru adalah agent of learning dan agent of civilization. Guru bukan hanya menyampaikan ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan peradaban,” kata Mendikdasmen Abdul Mu’ti.

Sejalan dengan prinsip tersebut, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kemendikdasmen Nunuk Suryani mengatakan pihaknya pada tahun ini memperkuat implementasi pelatihan mandiri ke-3 kompetensi tersebut dengan mengadopsi metode Teacher Experimental Training (TET).

Dengan metode TET, lanjutnya, sekolah menjadi laboratorium pembelajaran bagi para guru dan tenaga kependidikan yang mengikuti pelatihan karena dapat langsung menerapkan materi yang diajarkan ke dalam mata pelajaran yang diampu.

“Sekarang langsung implementasi di mata pelajaran masing-masing, sehingga guru matematika bertemu dengan guru matematika, guru Bahasa Indonesia bertemu dengan guru Bahasa Indonesia. Jadi langsung pelatihan, terus implementasi, pertemuan berikutnya lagi refleksi,” kata Nunuk.

Karena itu ia mengatakan pelatihan mandiri pembelajaran mendalam, koding, dan AI bagi GTK tahun ini juga mengoptimalkan peran kelompok kerja, seperti Kelompok Kerja Guru (KKG) maupun Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).

Selain itu pihaknya juga membuka akses yang lebih masif melalui Fitur Pelatihan Mandiri di Ruang GTK (RGTK) serta program Diklat Bauran melalui Learning Management System (LMS) RGTK guna memastikan tingginya keikutsertaan guru dan tenaga kependidikan pada pelatihan tahun ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *