Ziarah Pada Sebuah Nama

Serba-Serbi716 Dilihat

MEDIASI – Salah satu puisi yang dibaca dalam Festival Sastra. Haul Gus Dur ke-16.
Batu, 9 Januari 2026.

Aku datang kepadamu seperti mencari mata air,
menyelinap di sela waktu yang mengalir pelan,
membawa ingatan yang belum selesai kusebutkan.

Di pelataran sejarah
kau berdiri sebagai cahaya — bukan yang menyilaukan,
melainkan yang menuntun langkah, tanpa bertanya
siapa yang berhak berjalan.

Di kota-kota yang jauh,
nama itu masih dipanggil dengan rindu:
Gus Dur — ulama yang menertawakan luka,
presiden yang lebih memilih kebenaran
daripada tepuk tangan kekuasaan.

Orang-orang bercerita:
tentang minoritas yang merasa pulang,
tentang keyakinan yang menjadi pelukan,
tentang bangsa yang belajar bahwa perbedaan tidak berbahaya —
yang berbahaya justru ketika hati menjadi sempit.

Aku duduk lama di depan pusaramu…
membaca doa perlahan, seperti mengeja masa kecil.
Angin menyapa dedaunan, dan aku merasa
kau masih di sini —
dalam kalimat-kalimat yang ramah,
dalam tawa yang memaafkan.

Betapa sederhananya:
kau mengajarkan bahwa agama tidak boleh
lebih tinggi dari kemanusiaan,
sebab Tuhan sendiri telah turun ke hati manusia.

Aku tau, tak ada tinta yang cukup
untuk menampung seluruh jasamu.
Namun setiap bait kecil adalah ziarah:
secarik kain kasa yang membalut ingatan, agar bangkit
tidak selalu berarti lupa.

Waktu pun melangkah…
Malam menua pelan…
Di ambang senyap,
aku seperti mendengar suaramu:
“Jangan takut berbeda,
takutlah bila tak lagi mencinta.”
Maka aku pulang
dengan dada yang lebih lapang.
Dan mengerti — ada keindahan yang tidak pernah habis disebut,
selama kita masih belajar untuk menjadi manusia.

Oleh : Desy Proklawati

Kota Malang, 7 Januari 2026

BIONARASI PENULIS

Penulis Bernama lengkap Desy Proklawati, lahir di kota Palembang pada tanggal 17 Agustus 1987. Sejak kelas 1 SD, Ia telah menyukai dunia sastra, terutama puisi. Desy, sapaan akrabnya, saat itu sudah suka menulis puisi pendek dan sering atas inisiatif sendiri mengikuti lomba membaca puisi antar sekolah. Namun, kejuaraan membaca puisi tidak langsung Ia peroleh. Baru di saat SMP, Ia mulai berhasil menjuarai berbagai lomba membaca puisi serta sering mewakili sekolah hingga berlanjut tingkat SMA dan Perguruan Tinggi.

Masuk masa kuliah, Desy melanjutkan pendidikan S1 ke jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Malang melalui jalur prestasi (PMDK) dan melanjutkan pendidikan S2 di jurusan yang sama. Kini Ia sudah menjadi seorang dosen dan tengah menjalani pendidikan S3.

Penulis kini mulai kembali menekuni hobinya dan kesenangannya berkecimpung dalam dunia sastra. Impiannya adalah bisa membuat karya-karya sastra yang berkualitas serta mampu ikut serta dalam membina dan mengembangkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa yang indah, mudah digunakan dan banyak dipelajari oleh warga negara lokal serta warga negara asing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *