Soroti Penyusupan Intel di Kampus UMY, Anggota Komisi III DPR RI Minta Polri Proporsional dan Hargai Lingkungan Akademik

News9 Dilihat

MEDIASI – Anggota Komisi III DPR RI, Abdullah, meminta Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo mengevaluasi anak buahnya, khususnya bidang intelijen.

Pernyataan Politisi PKB ini terkait tertangkapnya seorang prajurit Bhayangkara di antara mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang baru saja kembali dari aksi demonstrasi di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta.

“Saya meminta Polri, khususnya Polda DIY, menjalankan kegiatan intelijen secara proporsional sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,” kata Abdullah, Sabtu (20/6/2026).

Dilansir dari laman Tirto, disebutkan bahwa polisi yang menyamar tersebut merupakan anggota intelijen di Polda DIY. Ia datang ke UMY atas perintah atasannya.

Menurutnya, polisi harus memiliki batas kewenangan dalam melakukan kerja spionase dan menghargai lingkungan akademik terutama saat para mahasiswa dan dosen menyampaikan aspirasinya. Sehingga tidak ada persepsi negatif dari masyarakat kepada Polri.

“Personel intelijen harus memahami batas-batas kewenangannya agar tidak menimbulkan persepsi negatif di tengah masyarakat. Kasus terungkapnya keberadaan intel di lingkungan kampus UMY harus menjadi bahan evaluasi bagi Polri,” tegasnya.

Abdullah berjanji akan menyampaikan keresahan para mahasiswa dan dosen tersebut kepada Listyo secara langsung dalam rapat kerja terdekat bersama Polri. Politisi PKB tersebut menyebut monitoring dan evaluasi (Monev), termasuk kinerja intelijen harus dilakukan termasuk oleh Kapolri selaku pemimpin institusi.

Monev ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas SDM atau intelijen Polri agar semakin profesional dan proposional dalam menjalankan tugas dan fungsinya serta menjawab tantangan zaman,” jelasnya.

Abdullah juga mengapresiasi seluruh civitas akademika UMY yang menurutnya mampu menyelesaikan persoalan ini secara bijaksana melalui dialog dan penghormatan terhadap prinsip-prinsip demokrasi.

“Penyelesaian yang damai menunjukkan kedewasaan semua pihak dalam menyikapi perbedaan pandangan sekaligus menjaga situasi tetap kondusif,” ungkapnya.

Sebelumnya, pada Rabu (17/6/2026) malam, seorang anggota intelijen kepolisian diamankan oleh ratusan mahasiswa setelah ketahuan menyusup dan memotret aktivitas mahasiswa. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *