Santri “Mabit Cuan” Ramadhan : Dari Pesantren ke Pasar Global, Kolaborasi Digital AXIS dan BAZNAS RI Guncang Dunia Digital

Publika216 Dilihat

MEDIASI – Sebuah revolusi senyap sedang berlangsung di balik dinding-dinding kokoh Pondok Pesantren Nihadlul Qulub, Moga, Pemalang. Di saat sebagian besar orang menghabiskan waktu Ramadan dengan beristirahat, sebanyak 25 santri pilihan—yang terdiri dari santri laki-laki dan perempuan—justru sedang ditempa menjadi tentara digital masa depan.

Perhelatan bertajuk “PELATIHAN DIGITAL BRANDING: MABIT CUAN RAMADAN” ini bukan sekadar pesantren kilat biasa, melainkan sebuah kawah candradimuka yang memadukan kedalaman spiritualitas dengan ketajaman strategi ekonomi digital modern.

Acara yang diselenggarakan oleh Digital Axis dan didukung penuh oleh Baznas RI ini berlangsung secara maraton selama setengah bulan penuh, mulai tanggal 23 Februari hingga 9 Maret 2026, bertepatan dengan 5 hingga 19 Ramadan 1447 H. Selama lima belas hari tersebut, para santri tidak hanya mengaji kitab, tetapi juga membedah algoritma, menguasai kecerdasan buatan (AI), dan merancang strategi pemasaran yang mampu menembus batas-batas geografis. Inisiatif ini merupakan langkah konkret dalam mewujudkan kemandirian ekonomi umat melalui tangan-tangan kreatif generasi muda yang tetap memegang teguh nilai-nilai kepesantrenan.

Kekuatan utama dari pelatihan ini terletak pada keberagaman pesertanya yang luar biasa. Sebanyak 25 santri yang hadir merupakan representasi nyata dari kebhinekaan Indonesia. Mereka datang sebagai utusan dari berbagai institusi pendidikan Islam ternama, mulai dari pondok pesantren di wilayah Tegal, Wonosobo, hingga Jombang yang dikenal sebagai kota santri. Tak ketinggalan, delegasi dari Madrasah di Pemalang serta utusan dari Cirebon, Jawa Barat, turut serta memperkaya dinamika belajar kelompok ini. Kehadiran mereka membawa misi besar untuk membawa pulang ilmu digital branding ke lembaga masing-masing.

Jika menilik asal daerah para peserta secara individu, cakupannya bahkan lebih luas dan mengejutkan. Di dalam aula pelatihan, duduk berdampingan santri yang berasal dari ujung barat Indonesia, yakni Riau, hingga santri yang menempuh perjalanan jauh dari tanah Papua.

Semangat mereka menyatu dengan rekan-rekan dari Jawa Timur, khususnya Probolinggo dan Bondowoso, serta para santri dari wilayah Jawa Tengah seperti Wonosobo, Tegal, dan tuan rumah Pemalang. Pertemuan lintas budaya dan geografis ini menciptakan ekosistem belajar yang inklusif, di mana ide-ide segar muncul dari berbagai sudut pandang daerah yang berbeda.

Transformasi digital dalam pelatihan ini dimulai dari aspek visual yang menjadi wajah utama di media sosial. Hendri Lisdiyant, seorang praktisi desain grafis berpengalaman dari Tegal, membekali para santri dengan keterampilan menggunakan Canva. Materi yang dibawakan adalah “Canva untuk Seni Dakwah,” sebuah upaya untuk mengemas pesan-pesan suci menjadi konten visual yang memikat mata namun tetap sarat makna. Dengan desain yang profesional, dakwah santri diharapkan mampu bersaing dengan konten-konten populer lainnya di linimasa, sekaligus memberikan alternatif tontonan yang edukatif bagi masyarakat luas.

Melengkapi aspek visual tersebut, M. Ulinnuha Iskandar, praktisi videografis dari Pekalongan, hadir memberikan teknik editing video menggunakan Capcut. Fokus utamanya adalah “Capcut untuk Artistik Dakwah,” yang mengajarkan santri bagaimana merangkai potongan gambar dan suara menjadi narasi video pendek yang menyentuh jiwa. Di era di mana video menjadi konsumsi utama pengguna internet, keterampilan ini menjadi senjata utama bagi santri untuk menyebarkan nilai-nilai Islam yang menyejukkan ke seluruh penjuru dunia secara instan melalui platform seperti Reels maupun TikTok.

Tak hanya video, aspek fotografi produk juga dibedah secara mendalam oleh Array, fotografer profesional Jawa Tengah asal Pemalang. Beliau memberikan materi “Fotografi untuk Seni Display Produk,” yang bertujuan agar para santri mampu menampilkan produk-produk UMKM pesantren dengan standar katalog profesional. Foto produk yang berkualitas tinggi adalah kunci utama dalam membangun kepercayaan konsumen di dunia maya. Array memastikan setiap santri, baik laki-laki maupun perempuan, mampu menangkap esensi dan nilai jual sebuah produk hanya melalui lensa kamera ponsel mereka dengan teknik pencahayaan yang tepat.

Memasuki ranah monetisasi, para santri diajarkan cara menjemput rezeki melalui platform yang sedang tren. Amirrul Ja’far Maulana dari Purbalingga memaparkan materi mengenai “Peluang dan Tantangan TikTok Afiliasi.” Materi ini sangat relevan mengingat TikTok bukan lagi sekadar platform hiburan, melainkan mesin ekonomi baru yang sangat masif. Santri diajarkan bagaimana menjadi kreator yang jujur namun persuasif dalam mempromosikan produk, sehingga mampu menghasilkan pendapatan tambahan (cuan) tanpa harus mengganggu aktivitas utama mereka dalam menuntut ilmu di pesantren.

Selain itu, solusi bisnis praktis bagi mereka yang ingin memulai usaha diberikan oleh Lutfi Maulana dari Pemalang. Melalui materi “Manajemen Akun dan Building Toko Kosmetik Tanpa Modal,” Lutfi memperkenalkan sistem dropship yang efektif. Para santri diajarkan cara mengelola stok secara virtual dan membangun kepercayaan pelanggan. Agar toko online yang dibangun tidak tenggelam di lautan informasi, M. Kushaeri dari Pemalang menutup rangkaian materi digital dengan “Manajemen Keywords,” sebuah teknik agar setiap konten dan produk yang mereka tawarkan selalu muncul di halaman utama mesin pencari.

Namun, penguasaan alat digital hanyalah separuh dari perjalanan. Inti dari perubahan ini terletak pada perubahan paradigma atau mindset. Ali Sobirin El-Muannatsy, yang merupakan Pengasuh Pesantren Nihadlul Qulub sekaligus Trainer Nasional, memberikan materi “Mindset Building” dan “AI for Content Creation.”

Kyai Birin, sapaan akrab pengasuh Pesantren Nihadlul Qulub ini, menegaskan bahwa teknologi adalah pelayan, bukan majikan. Sebagai penulis buku legendaris bertajuk TEKNOLOGI RUH: Pendampingan Teknis untuk Mengawal Masa Depan (Jakarta: TOPP Indonesia, 2007), ia mengajarkan bagaimana teknologi harus digunakan sebagai instrumen kepribadian untuk mengenali diri dan mengawal takdir baik.

Buku Teknologi Ruh karya Kyai Ali Sobirin menjadi landasan filosofis bagi para santri agar tidak kehilangan arah di tengah derasnya arus digitalisasi. Dalam sesi-sesinya, beliau menekankan bahwa keberhasilan teknis harus dibarengi dengan kekuatan batin. Penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) dalam pembuatan konten dipandang sebagai percepatan takdir yang harus dikawal dengan integritas ruhani. Dengan AI, santri bisa memproduksi konten lebih cepat dan efisien, namun esensi kebenaran dan ketulusan tetap harus bersumber dari kedalaman hati serta kecerdasan spiritual sang kreator.

Di tengah gempuran materi teknologi, Pondok Pesantren Nihadlul Qulub tetap menjaga kemurnian tradisi keilmuan Islam. Bidang keagamaan menjadi jangkar yang memastikan para santri tetap berpijak pada syariat. Kyai Khozin mengampu kajian mendalam terhadap Tafsir Jalalain, sebuah kitab tafsir klasik yang sangat otoritatif di dunia pesantren. Pengkajian Tafsir Jalalain ini bertujuan agar santri memiliki pemahaman Al-Qur’an yang lurus sebelum mereka membagikannya di dunia digital. Hal ini krusial agar konten dakwah yang mereka buat memiliki bobot ilmiah dan sanad keilmuan yang jelas.

Selain tafsir, pemahaman hukum Islam dasar juga diperkuat melalui bimbingan Kyai Ma’nawi Romdlon yang mengajarkan kitab Mabadi’ul Fiqhiyyah. Materi fiqih ini sangat penting, terutama dalam kaitannya dengan transaksi ekonomi digital yang baru saja mereka pelajari. Dengan memahami fiqih muamalah, para santri diharapkan mampu menjalankan bisnis online, sistem dropship, maupun afiliasi dengan cara-cara yang halal, berkah, dan jauh dari praktik gharar atau penipuan. Inilah yang disebut dengan “Cuan Berkah” yang menjadi target utama pelatihan ini.

Dukungan dari Baznas RI dalam acara ini menunjukkan bahwa pemanfaatan dana zakat, infak, dan sedekah kini telah bertransformasi ke arah pemberdayaan ekonomi kreatif yang berkelanjutan. Dengan memberikan keterampilan digital branding kepada 25 santri ini, Baznas RI sebenarnya sedang membangun ketahanan ekonomi umat dari akar rumput. Setiap santri yang lulus dari pelatihan ini diharapkan menjadi agen perubahan yang mampu mengangkat potensi ekonomi daerah asalnya, baik itu santri dari Papua yang ingin memajukan produk lokalnya, maupun santri dari Riau dan Jawa yang ingin mendigitalisasi dakwah mereka.

Kesuksesan acara selama setengah bulan ini bukan diukur dari seberapa banyak jumlah pengikut media sosial yang didapat, melainkan dari seberapa besar perubahan kepercayaan diri para santri. Mereka kini menyadari bahwa menjadi seorang santri adalah sebuah keunggulan kompetitif. Dengan bekal ilmu dari kitab Tafsir Jalalain dan filosofi dalam buku Teknologi Ruh, mereka adalah kelompok yang paling siap mengawal masa depan Indonesia di ruang digital. Pelatihan ini adalah bukti nyata bahwa kolaborasi antara Digital Axis, Baznas RI, dan pesantren dapat menciptakan kekuatan ekonomi baru yang beradab dan penuh keberkahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *