Yusril Ihza Mahendra : Generasi Muda Perlu Terus Membaca, Menelaah, dan Mengembangkan Warisan Intelektual Para Pendiri Bangsa

News30 Dilihat

MEDIASI – Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra berpesan agar generasi muda bisa mempelajari pemikiran para pendiri bangsa.

“Generasi muda perlu terus membaca, menelaah, dan mengembangkan warisan intelektual para pendiri bangsa agar nilai-nilai kebangsaan, keislaman, dan demokrasi dapat terus hidup dalam kehidupan bernegara,” kata Yusril, seperti dikonfirmasi di Jakarta, Minggu.

Dia menuturkan salah satu pendiri bangsa dimaksud, yakni Perdana Menteri Ke-5 Indonesia Mohammad Natsir, yang merupakan sosok yang menginspirasi perjalanan intelektual dan pemikiran Yusril selama ini.

Menurutnya, Natsir merupakan orang yang sangat cerdas, di mana sejak muda sudah menulis dan menuangkan berbagai pikirannya.

Berbagai tulisan tersebut, kata dia, diwariskan kepada bangsa Indonesia sampai saat ini dan masih sangat relevan serta menginspirasi.

Yusril mengingatkan sejarah mencatat bagaimana Natsir terlibat dalam perdebatan intelektual yang tajam dengan Presiden Pertama RI Soekarno mengenai hubungan Islam dan negara, namun perbedaan pandangan tersebut tidak menghilangkan rasa hormat satu sama lain maupun komitmen untuk menjaga Indonesia.

“Politik hari ini membutuhkan integritas dan kedewasaan seperti yang dicontohkan Pak Natsir. Berbeda pandangan adalah sesuatu yang niscaya, tetapi menjaga persatuan bangsa dan mengutamakan kepentingan Indonesia harus tetap menjadi tujuan utama,” katanya.

Bagi Yusril, sosok Mohammad Natsir bukan hanya bagian dari sejarah bangsa, melainkan sumber inspirasi yang pemikirannya tetap relevan untuk menjawab tantangan Indonesia masa kini.

Untuk itu menjelang ujian promosi doktor bidang filsafat di Universitas Indonesia, Menko telah berziarah ke makam Pahlawan Nasional Mohammad Natsir di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Jakarta, Rabu (24/6), Ziarah pribadi itu menjadi momen refleksi sekaligus penghormatan kepada Natsir,

Ia pun mengenang perjalanan hidupnya di masa muda yang berinteraksi dengan Natsir dalam waktu yang cukup panjang, yakni sejak 1978 hingga menjelang wafatnya tokoh Masyumi tersebut pada tahun 1993.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *